Gee Dee Blog

Berpacu menjadi yang terbaik

mengolah non book material

diposting oleh kurniawan-h--fisip08 pada 14 November 2011
di knowledge - 0 komentar

 

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengolah Non Book Material:

 

  1. Pernyataan jenis bahan umum

Unsur kedua dari daerah judul dan pernyataan tanggung jawab adalah pernyataan jenis bahan umum (General Material Designation atau GMD) yang berfungsi memberitahukan sedini mungkin bentuk fisik dokumen. Istilah-istilah yang digunakan di sini bersifat umum, artinya menyebut kelompok umum dokumen tersebut.

 

  1. Daerah data khusus

Daerah ketiga dari deskripsi bibliografi adalah daerah yang digunakan untuk data yang hanya berlaku untuk satu jenis bahan pustaka saja, jadi berupa data khusus yang karena kekhususannya tidak dapat ditampung dalam daerah-daerah lain. Dalam AACR 2 daerah ini digunakan untuk deskripsi data matematik (skala, proyeksi dan sebagainya) bahan kartografi dan pada deskripsi terbitan berseri untuk keterangan tentang sistem penomoran dan sebagainya. Pada deskripsi jenis bahan lain daerah ini dilewatkan.

 

  1. Daerah deskripsi fisik

Daerah kelima dari deskripsi yang dahulu disebut kolasi, adalah daerah untuk mencatat berbagai data mengenai bentuk fisik dokumen. Daerah ini selalu dimulai dengan keterangan mengenai jumlah, disertai suatu “specific material designation” atau pernyataan jenis bahan spesifik, yang menerangkan kelompok khusus dokumen tersebut. Data yang dicatat dalam daerah ini disesuaikan dengan sifat dan ciri khas masing-masing jenis bahan.

 

 

Masalah-masalah yang disebabkan oleh ciri-ciri dan sifat bahan bukan buku:

 

  1. Keragaman bahan bukan buku menuntut pengetahuan khusus tentang berbagai jenis bahan dengan cirri-cirinya masing-masing. Kebanyakan bahan belum bersifat stabil, artinya belum sampai ke fase yang dapat dianggap sebagai telah mencapai bentuk permanen dengan ciri-ciri yang tidak akan berubah lagi. Usaha penyempurnaan bentuk-bentuk yang telah ada dan pemanfaatan perkembangan teknologi untuk menciptakan bentuk-bentuk baru, masih berjalan terus, sehingga pengkatalog harus secara aktif mengikuti perkembangan mutakhir

 

  1. Pengawasan bibliografi bahan bukan buku masih jauh dari sempurna, sehingga alat-alat Bantu yang dapat mempermudah pencarian atau verifikasi data bibliografi untuk pengkatalogan sangat kurang. Situasi ini timbul karena:

 

  1.  
    1. Sarana bibliogrfai seperti bibliografi, indeks, panduan pustaka yang komprehensif, pada umumnya merupakan hasil usaha yang hanya dapat berjalan dengan dukungan koleksi nasional yang berkembang karena adanya undang-undang wajib simpan. Di Inggris misalnya, undang-undang wajib simpan tidak mencakup bahan bukan buku. Library of Congress mengumpulkan jenis-jenis bahan tertentu, tetapi tidak mengkatalog semua jenis bahan yang ada dalam koleksinya. Mengingat sifat-sifat khas bahan bukan buku, kemungkinan ditetapkannya keharusan menyerahkan satu kopi bahan bukan buku masih dipertanyakan. Untuk menyimpan bahan bukan buku diperlukan fasilitas penyimpanan yang sangat besar. Wajib simpan ini dapat memberatkan penerbit, karena kopi sebuah film kadang-kadang bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Yang mungkin dapat dilaksanakan adalah “ legal deposit of information”, yaitu kewajiban menyerahkan informasi tentang segala sesuatu yang telah diterbitkan

 

  1.  
    1. Bahan bukan buku merupakan hasil usaha berbagai jenis badan usaha dengan pola penerbitan dan penyaluran yang berbeda-beda. Beberapa jenis bahan bukan buku, yaitu bahan yang dapat diproduksi dengan alat-alat yang relatif murah, seperti selid, transparansi, rekaman suara, filmstrip, diproduksikan oleh perorangan atau badan non-komersial dan diperjualbelikan dalam jumlah yang terbatas. Bahan ini bermutu cukup tinggi dan merupakan sumbangan yang berharga bagi khazanah bahan bukan buku tetapi kehadiran mereka juga memperbesar kerumitan pengawasan bibliografi.

 

  1. Bahan bukan buku tidak mempunyai halaman judul atau padanannya, sehingga pengkatalog sering mengalami kesulitan dalam memilih data yang harus ditranskripsikan. Data yang ditemukan kadang-kadang bertentangan atau berbeda. Judul pada kemasan berbeda dari judul pada label, yang berbeda lagi dari judul pada “title frame”, misalnya.

 

  1. Bahan bukan buku pada umumnya merupakan hasil usaha bersama berbagai fihak dengan berbagai fungsi, sehingga timbul masalah kepengarangan atau masalah penentuan tanggung jawab intelektual/artistic. “Diffuse authorship” atau kepengarangan tersebar atau kepengarangan kabur merupakan salah satu ciri khas berbagai jenis bahan bukan buku.

 

 

  1. Satu dokumen kadang-kadang terdiri dari berbagai jenis bahan, tanpa ada indikasi unit mana yang utama dan yang pelengkap.

 

  1. Pengkatalogan bahan bukan buku kadang-kadang memakan banyak waktu dan tenaga, karena deskripsi bibliografi harus lengkap dan terperinci. Informasi yang tersimpan dalam bentuk bahan bukan buku tertentu (mis: film, rekaman suara, rekaman video) tidak dapat dibaca-baca atau dilihat-lihat seperti informasi berbentuk bahan tercetak. Bahan ini juga mudah rusak dan cepat menurun kualitasnya bila terlalu sering diputar.

 

Masalah yang berkaitan dengan proses pengkatalogan:

 

Perpustakaan adalah sebuah sistem. Suatu sistem adalah suatu kesatuan yang terorganisir dan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu, tercapai. Tujuan ini dapat dicapai berkat interaksi antara komponen sistem tersebut, sifat saling tunjang menunjang antar komponen, dan beroperasinya komponen tersebut sebagai suatu kesatuan integral. Perpustakaan adalah suatu kesatuan yang diorganisir untuk mencapai tujuan tertentu yaitu komunikasi informasi.

 

Komponen suatu sistem dapat merupakan suatu sistem pula. Bagian pengadaan atau bagina pengkatalogan suatu perpustakaan misalnya, masing-masing merupakan suatu sistem tersendiri. Sebagian komponen dari sistem yang lebih besar (perpustakaan), ke dua komponen ini merupakan sub sistem. Sebagai sistem tiap komponen mempunyai tujuan tersendiri, tetapi karena kedudukannya sebagai subsistem dari sistem yang lebih besar, ia harus mempunyai tujuan yang menunjang tercapainnya tujuan akhir, yaitu tujuan sistem (perpustakaan). Perpustakaan dalam konteks yang lebih luas merupakan suatu subsistem dari suatu sistem eksternal yang lebih besar, yaitu masyarakat yang dilayani, sekolah bagi perpustakaan sekolah, lembaga penelitian bagi perpustakaan khusus dst.

 

Pengkatalogan bertujuan membantu pemakai perpustakaan untuk menentukan bahan pustaka mana yang paling sesuai untuk kebutuhan mereka, dan memberitahukan di mana bahan tersebut dapat ditemukan.

Untuk mencapai tujuan tersebut suatu sarana komunikasi antar pengelola sumber-sumber informasi dan pemakai perpustakaan diciptakan, yaitu katalog. Sarana ini merupakan hasil dari proses pengkatalogan.

 

Proses pengkatalogan sebagai komponen atau subsistem harus

berjalan searah dengan kebijakan seluruh sistem. Interaksi antara semua komponen menciptakan ketergantungan timbal balik antar komponen, sehingga dalam menentukan kebijaksanaannya suatu subsistem senantiasa harus mempelajari dan mempertimbangkan kebijaksanaan subsistem lain.

 

Suprasistem, yang ikut menentukan tujuan perpustakaan juga perlu dipelajari, sebab katalog yang efektif adalah katalog yang mencerminkan tipe lembaga, latar belakang, tingkat kemajuan dan pendidikan masyarakat yang diharapkan menggunakannya. Di samping itu perlu disadari bahwa sebagai perkembangan teknologi dalam dasawarsa terakhir terutama dalam bidang teknologi informasi, dunia telah menciut, sehingga seluruh dunia harus dianggap sebagai suprasistem yang menuntut penyebaran dan pertukaran informasi dengan cepat. Oleh sebab itu perekaman, penyimpanan dan temu lembali informasi tidak dapat lagi direncanakan semata-mata berdasarkan situasi di suatu tempat tertentu, tetapi harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi bagian dari suatu sistem yang mencakup seluruh dunia. Kenyataan ini tentu mempunyai implikasi yang luas bagi perpustakaan dan subsistemnya. Untuk subsistem pengkatalogan misalnya, ini berarti sedapat mingkin memakai peraturan pengkatalogan internasional, memperhitungkan kemungkinan otomasi dsb.

 

 

AACR 2 menyadari bahwa tidak semua perpustakaan memerlukan

deskripsi bibliografi yang lengkap dan terperinci sekali, dan oleh sebab itu memberi tiga tingkatan deskripsi (level of description) yang berbeda dalam derajad kelengkapannya (jumlah unsur yang dicatat), tetapi tidak dalam urutan penyajian unsur-unsur deskripsi.

 

 

Deskripsi aras kedua :

 

Judul sebenarnya [Jenis Bahan Umum]=judul paralel : informasi lain dalam judul / Pernyataan tanggung jawab pertama; pernyataan tanggung jawab berikutnya. – Pernyataan edisi / pernyataan tanggung jawab pertama berkaitan dengan edisi. – Rincian khusus mengenai bahan (atau jenis terbitan) tertentu. – Tempat terbit Pertama dsb., : penerbit pertama dsb., tahun terbit dsb. – Penjelasan deskripsi fisik : Rincian fisik lainnya ; dimensi. – (Judul seri sebenarnya / pernyataan tanggung jawab

Berkaitan dengan seri, ISSN seri ; penomoran seri. Judul subseri, ISSN subseri ;

Penomoran subseri). – Catatan. – Nomor standar

 

 

Contoh deskripsi rekaman suara karya satu orang

 

Tooze, Ruth.

Storytelling [rekaman suara] / Ruth Tooze

. – Los Angeles : Listener Corp., [197?]

4 kaset ( 210 menit) : digital, stereo.

. – ( Listener in service cassette library ;

album 6 )

 

Dalam kotak (24 cm)

Ringkasan dan keterangan biografi pada

Kotak

 

 

Contoh deskripsi gambar hidup

 

Japanese tea ceremony [gambar hidup] / Walt

Disney Productions. – santa Anna, Calif.

: Doubleday Multimedia, 1985.

1 kartridge film (4 menit) : bisu, berwarna ;

super 8 mm. + 1 pedoman. – (Japanese series)

 

 

 

 

 

Contoh deskripsi transparansi

 

Hailer, Harold

How to design educational games [Trans

-paransi] / Harold Hailer. – san Jose, Calif.

: Lansford, 1981.

10 transparansi : berwarna ; 26 x 31 cm.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

time

indonesia united

lumba-lumba darat

Pengunjung

    323.995