Gee Dee Blog

Berpacu menjadi yang terbaik

sejarah buku non material

diposting oleh kurniawan-h--fisip08 pada 14 November 2011
di knowledge - 0 komentar

Sejarah Non Book material

 

Kehadiran bahan bukan buku di perpustakaan memperkaya koleksi bahan pustaka dan memungkinkan perpustakaan memberikan pelayanan yang lebih beragam kepada para pemakai jasannya. Bahan bukan buku atau disebut juga bahan audio visual, bahan pandang dengar, bahan non buku atau media, juga menimbulkan berbagai masalah bagi pustakawan yang harus menanganinya. Mulai dari alokasi anggaran yang seimbang, seleksi, penyimpanan, perawatan, pengkatalogan sampai ke sirkulasi. Ada berbagai masalah yang menguji kemampuan dan kreativitas pustakawan perpustakaan multimedia.

 

Harrison dalam artikelnya yang berjudul “Non-book materials: a decade of development ?”, menjelaskan bahwa jenis-jenis bahan bukan buku tertentu sudah sejak lama dikumpulkan dan menjadi koleksi perpustakaan, tetapi biasannya perpustakaan mengumpulkan satu jenis bahan saja. Perpustakaan tersebut berfungsi sebagai arsip nasional, arsip badan-badan usaha tertentu seperti perusahaan film, stasiun radio dsb.

 

Tahun 1865

Library of Congress telah mengumpulkan peta

 

Tahun 1935

National Film Archive didirikan di Inggris, menyimpan gambar hidup dan rekaman suara. Pada tahun yang sama juga berdiri National Archives Amerika Serikat

 

Tahun 1950-an

Bahan audio-visual mulai digunakan dalam pengajaran

 

Akhir tahun 1960-an

Beberapa perpustakaan yang melayani lembaga-lembaga pendidikan mulai menyimpan bahan bukan buku.

 

Tahun 1965

Muncul gagasan mendirikan apa yang disebut Resource Centers di Inggris. RC ini bernaung di bawah lembaga pendidikan atau badan pemerintah yang mengelola pendidikan, merupakan pusat produksi film dan televisi yang tidak saja membuat film dan video, tapi juga rekaman suara dan bahan grafika seperti foto dan slide.

Untuk meninkatkan dan memperlancar produksi, mereka mengumpulkan berbagai bahan yang dapat dipakai dalam kreasi baru mereka. Bahan ini adalah Resource collection yang perlu dikelola agar dapat dipakai semaksimal mungkin.

 

Mulai saat itu terasa bahwa kerjasama dengan pustakawan, yang menguasai teknik pengolahan dan temu kembali informasi sangat dibutuhkan. Namun demikian kerja sama ini tidak tercipta dengan segera, karena para pustakawan enggan menerima tanggung jawab atas bahan bukan buku. Mayoritas pustakawan masih sangat Book Oriented dan belum dapat menerima kenyataan bahwa infromasi tidak selalu harus dituangkan dalam bentuk huruf tercetak atas kertas.

 

Tahun 1970-an

Diskusi antara berbagai pihak yang berkepentingan, seperti produser bahan, guru, pengelola resource center dan pustakawan mengenai pembagian tugas dan pembatasan tanggung jawab.

 

Harrison menyimpulkan bahwa informasi adalah tanggung jawab pustakawan, dan informasi makin banyak disajikan lewat bahan bukan buku. Jika para pustakawan berpendapat bahwa pelestarian, pengolahan dan temu kembali informasi adalah tanggung jawab mereka, maka dengan sendirinya bahan bukan buku juga tanggung jawab mereka. Bahan tercetak dan bahan bukan cetakan adalah partner dan bukanlah saingan seperti dikira sebelumnya.

 

Kesadaran dan pengakuan bahwa bahan bukan buku juga merupakan tanggung jawab perpustakaan merupakan suatu langkah maju yang penting. Tetapi ada masalah baru yaitu, sistem pengaturan dan pengelolaan informasi terekam yang berlaku di perpustakaan adalah sistem yang diciptakan untuk informasi yang direkam dalam satu format tertentu, yaitu buku.

 

Berbagai usaha ke arah pengembangan suatu sistem baru atau sistem multi-media dirintis. Di bidang sarana temu kembali usaha untuk menyususn aturan pengkatalogan deskriptif yang dapat menghasilkan suatu katalog multimedia ditingkatkan.

 

Anglo American Cataloging Rules edisi ke 1 yang pada saat itu merupakan aturan pengkatalogan yang umum dipakai di Inggris, Amerika dan Canada, memang memuat juga aturan untuk bahan bukan buku, tetapi salah satu bagian AACR 1 yang paling banyak dikritik adalah bagian untuk bahan bukan buku.

 

Bagian tersebut merupakan suatu campuran peraturan untuk penentuan tajuk dan deskripsi yang tidak karuan. Oleh sebab kebutuhan sudah sangat mendesak, banyak perpustakaan dan badan lain yang berkepentingan mulai menyususn aturan pengkatalogan khusus untuk bahan yang mereka kelola. Walaupun beberapa dari kode pengkatalogan ini baik sekali (beberapa diantaranya bahkan menjadi dasar bagi aturan bahan bukan buku dalam AACR 2), keragaman aturan khusus ini tidak menguntungkan bagi kerja sama antar perpustakaan dan pertukaran informasi bibliografi secara internasional.

 

Tahun 1978

AACR 2 terbit, dengan demikian dunia perpustakaan memperoleh seperangkat aturan pengkatalogan yang tidak lagi book oriented (The rules in part 1 of AACR 2 deal with print and nonprint materials on an equal basis). Dalam peraturan AACR 2 bahan bukan buku tidak lagi diperlakukan sebagai semacam buku yang cacat, tetapi diperlakukan dengan pendekatan yang sesuai bagi bahan tersebut, dalam suatu kerangka kerja yang netral dan komprehensif, yaitu International Standard Bibliographic Description (General).

 

Aturan dalam, Bab 1 AACR 2 merupakan aturan deskripsi bahan pustaka yang paling lengkap dan tidak berat sebelah yang ada hingga kini. Aturan ini mengambil banyak konsep dari LANCET (Library Association and National Council for Educational Technology) dari Inggris, yang merupakan pelopor di bidang pengkatalogan deskriptif bahan bukan buku. Terutama konsep satu struktur tunggal yang mencakup semua bahan dan pendekatan yang tidak mengutamakan salah satu tipe bahan pustaka tertentu sangat mempengaruhi bab 1 AACR 2. Tiap jenis bahan diperinci sesuai dengan cirri-ciri dan sifat-sifat khas bahan tersebut.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

time

indonesia united

lumba-lumba darat

Pengunjung

    319.967