Gee Dee Blog

Berpacu menjadi yang terbaik

budaya konsumen

diposting oleh kurniawan-h--fisip08 pada 14 November 2011
di knowledge - 0 komentar

BUDAYA KONSUMEN

 

  • Budaya Konsumen terkait dengan dampak konsumsi massa pada kehidupan sehari-hari. Dampak tersebut menyangkut perilaku sehari-hari, perubahan tata simbolis dan struktur makna.

 

  •  
    • Budaya Konsumen merupakan istilah yang menyangkut tidak hanya perilaku konsumsi, tetapi adanya suatu proses reorganisasi bentuk dan isi produksi simbolis di dalamnya.

 

  •  
    • Perilaku di sini bukan sebatas perilaku konsumen dalam artian pasif. Namun merupakan bentuk konsumsi produktif, yang menjanjikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan, menemukan kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup.

 

  •  
    • Keberadaan budaya konsumen ditandai dengan munculnya produksi tanda dan makna terus menerus.

 

  •  
    • Unsur-unsur budaya konsumen:

  •  
    1. Budaya masyarakat konsumen sering diberi ciri materialis dan tindakan mementingkan diri sendiri yang hedonistis di mana individu memusatkan kehidupannya pada konsumsi barang-barang.

Hal ini terjadi diawali dengan adanya peralihan produksi barang secara massal dan munculnya pasar-pasar yang baru untuk barang konsumen yang diiringi dengan perubahan pada sarana produksi, seperti misalnya rasionalisasi pedagang eceran, yang selanjutnya mendorong munculnya tempat-tempat konsumsi baru: toko serba ada, pasar raya dan pusat-pusat perbelanjaan.

Dalam tempat konsumsi tersebut, seluruh kegiatan peragaan bertujuan membuat barang tampak lelbih bagus dengan memanipulasi kesan dan logika pemajangan yang menghasilkan situasi di mana makna dialihkan melalui suatu proses elisi. Karena itu membeli barang berarti membeli kesan dan pengalaman, dan kegiatan belanja bukan lagi suatu transaksi ekonomi “sederhana” melainkan interaksi simbolis, dimana individu membeli dan mengkonsumsi kesan dan gaya hidup.

Karena itu, budaya konsumen tidak dianggap sebagai budaya materialis rasional, tetapi lebih dari itu, munculnya suatu “nilai pakai kedua” atau ersart (disebut oleh Adorno).

  •  
    1.  
      • Baudrillard teori sosial Post Modern

 

  •  
    1. Budaya konsumen menekankan adaya suatu tempat di mana kesan memainkan peranan utama. Saat ini dapat kita lihat bahwa betapa banyak makna baru yang terkait dengan komoditi “material” melalui peragaan, pesan iklan, industri gambar hidup serta berbagai jenis media massa.

Dalam pembentukannya, kesan terus menerus diproses ulang dan makna barang serta pengalaman terus didefinisikan kembali. Tidak jarang tradisi juga “diaduk-aduk dan dikuras” untuk mencari simbol-simbol kecantikan, roman, kemewahan dan eksotika (Benyamin menyebut budaya konsumen adalah suatu “dunia mimpi”)

 

  •  
    1.  
      • Menurut Bourdieu, budaya dan perilaku konsumsi kelas pekerja tidak dapat dipahami dengan melihat sebatas lingkup budaya, melainkan perlu dikaitkan dengan suatu kajian mengenai budaya produksi pada umumnya – yang didasarkan pada penciptaan perbedaan-perbedaan selera untuk menggambarkan hubungan antar kelas. Bourdieu, dengan melakukan kajian empiris mengemukakan tentang adanya perbedaan antar kelas dalam hal pola konsumsi dan gaya hidup, yang mencakup selera mengenai makanan, minuman, hobi, mobil, olah raga, musik, seni, buku bacaan, surat kabar, majalah dsb. Adanya tingkat dan perbedaan selera tersebut terkait dengan adanya sistem simbol yang tercipta dalam masyarakat.

 

  •  
    1. Perilaku konsumen yang nampak tidak hanya sebatas perilaku konsumsi yang bersifat materialis, namun menonjolkan suatu gaya hidup.

Komoditi menjadi sesuatu yang “diukir” dengan gaya dan gaya adalah komoditi yang bernilai. Upaya merancang dan mengerjakan ulang komoditi untuk menciptakan kesan gaya yang menonjolkan individualitas pemiliknya menjadi hal yang utama. Perilaku konsumsi akhirnya mengarah pada penampilan suatu gaya hidup yang melahirkan suatu ekspresi dan gaya.

Iklan dan mediapun menekankan tanpa henti bahwa kesan pribadi seseorang datang dari penampilan dan penampilan itu tergantung dari reaksi atau respon lingkungan. Akibatnya ditekankan bahwa (misalnya) peningkatan penampilan dengan pakaian model mutakhir, perawatan tubuh dan wajah akan menghasilkan citra diri yang bertambah baik dan meningkat (status).

 

Universalisme

Kalau kita berbicara tentang pengaruh global dan dampak budaya konsumen atas negara-negara pinggiran, hal ini tentunya terkait dengan peran media massa, dengan pemahaman bahwa sebagian besar negara-negara di luar negara yang mengkonsumsi “komoditi” tidak bisa terlepas dari konsumsi kesan dalam media.

Mattelart mengatakan, perusahaan-perusahaan multinasional, yang makin menguasai produksi perangkat keras media (terutama teknologi informasi) memproduksi berita, hiburan, iklan yang meletakkan landasan untuk mewujudkan kekuasaan budaya pusat atas negara-negara pinggiran. Karena itu, budaya konsumen yang dalam istilah Mattelart budaya massa mulai menjadi budaya universal.

Meningkatnya dominasi negara-negara pusat dalam hal produksi serta distribusi budaya melalui media, sering ditunjukkan oleh negara-negara konsumen dalam bentuk kesulitan untuk menciptakan proteksi budaya dalam rangka memelihara budaya lokal. Oleh negara-negara konsumen, dominasi budaya yang progresif ini sering dianggap sebagai bentuk emperialisme budaya atau imperialisme media.

 

(Diambil dari makalah Mike Featherstone yang berjudul Budaya Konsumen, Kekuatan Simbolis dan Universalisme, dalam buku: Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, penyunting: Hans-Dieter Evers, penerbit: Yayasan Obor Indonesia, 1988)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

time

indonesia united

lumba-lumba darat

Pengunjung

    319.969