Gee Dee Blog

Berpacu menjadi yang terbaik

kemajuan TI dan komunikasi

diposting oleh kurniawan-h--fisip08 pada 14 November 2011
di teknologi informasi - 0 komentar

 

Dampak Kemajuan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Terhadap Perkembangan Perilaku Membaca

 

 

1. PENDAHULUAN

1.1. Gambaran Umum

Hal-hal yang akan dibahas dalam bab ini adalah meliputi dampak kemajuan teknologi dan informasi yang meliputi dampak televisi serta teknologi digital dalam perkembangan minat dan perilaku membaca. Dalam membahas pokok bahasan pertama tentang dampak televisi akan dikemukakan sub bahasan yaitu Televisi dan buku: Kelebihan dan kekurangan menonton televisi dan membaca buku; Dampak Televisi pada Minat, Kemampuan dan Perilaku Membaca serta Membangun Keseimbangan dengan tujuan mengeliminir dampak negatif televisi terhadap perilaku membaca.

Sedangkan dalam pokok kedua akan dikaji Perilaku Membaca di Era Digital, yang meliputi sub bahasan Dampak Teknologi Digital terhadap Perubahan Perilaku Membaca serta Beberapa Proses dalam Aktivitas Membaca di Era Digital.

 

1.2. Relevansi Dengan Pengetahuan/Pengalaman Mahasiswa

Apa yang dibahas dalam bab ini diharapkan bukan hanya memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang konsep-konsep yang perlu dipahami tentang dampak teknologi informasi dan komunikasi yaitu televisi dan teknologi digital pada perkembangan minat dan perilaku membaca tetapi juga dengan pengetahuan tersebut diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kajian dalam bentuk artikel maupun penelitian ilmiah agar mampu memberikan kontribusi positif bagi pemecahan masalah tentang dampak ICT terhadap minat dan perilaku membaca di lingkungan keluarga, institusi pendidikan, perpustakaan maupun masyarakat.

 

1.3. Relevansi Dengan Kegunaan Bagi Mahasiswa Jika Kelak Bekerja

Bagi mahasiswa yang kelak akan berkecimpung di bidang pelayanan serta pengelolaan jasa informasi dan perpustakaan khususnya perpustakaan sekolah dan umum, pengetahuan dampak ICT terhadap perkembangan minat dan perilaku membaca yang dibahas dalam bab ini diharapkan dapat menjadi bekal untuk lebih memahami persoalan ketika mereka menyusun langkah-langkah atau program intervensi mereduksi dampak negatifnya baik di lingkungan institusi pendidikan melalui perpustakaan, keluarga dan lingkungan masyarakat lainnya.

 

1.4. Relevansi Dengan Bab atau Mata Kuliah Lain

Pembahasan dalam bab ini terkait dengan mata kuliah lainnya yang juga dalam pokok bahasannya mengkaji aspek kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yaitu mata ajaran Informasi dan Masyarakat serta Perilaku Informasi. Dengan memahami pokok bahasan dalam bab ini, diharapkan mahasiswa mendapatkan pengetahuan untuk melengkapi materi yang dibahas dalam mata ajaran Informasi dan Masyarakat serta Perilaku Informasi sehingga mendapatkan pengetahuan yang komprehensif dan terintegrasi.

 

1.5. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) bab ini adalah mahasiswa mampu menjelaskan dampak kemajuan ICT terhadap perkembangan minat dan perilaku membaca.

 

2. PENYAJIAN

2.1. Materi

Salah satu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini yang selalu diperbincangkan membawa dampak pada perkembangan perilaku membaca serta minat baca adalah televisi serta teknologi internet.

Sejak televisi menjadi teknologi yang meningkat penggunaannya, dampaknya terhadap minat membaca sering dijadikan obyek kajian. Namun seiring dengan kemajuan inovasi teknologi informasi dan komunikasi lainnya, perbincangan tentang dampak televisi terhadap minat baca seolah terlupakan oleh diskusi yang terkait dengan kemunculan teknologi yang lebih canggih lainnya, yaitu diantaranya adalah dampak teknologi internet dan digital terhadap perilaku membaca.

Memang perlu diakui bahwa di beberapa negara maju pada kenyataannya, saat ini kajian tentang dampak televisi terhadap minat baca mulai surut dan mereka acapkali mengkaji tentang dampak internet dan teknologi digital terhadap perilaku membaca. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya jenis karya ilmiah serta konsep yang terkait dengan perilaku membaca di era digital mulai bermunculan dibandingkan dengan diskusi tentang televisi dan minat baca. Sedangkan di negara-negara berkembang karena peningkatan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi khususnya teknologi internet tidaklah setinggi negara maju, serta masih tingginya aktivitas menonton televisi masyarakat pada komunitas yang jauh dari perkotaan (metropolis) maka kajian tentang dampak televisi terhadap minat baca masih relevan dilakukan.

 

2.1.1.TELEVISI DAN KEGIATAN MEMBACA

Di negara berkembang seperti di Indonesia hingga saat ini masih dirasakan adanya beberapa hambatan dalam upaya pihak-pihak yang berkepentingan seperti keluarga, sekolah dan perpustakaan dalam mengembangkan perilaku gemar membaca. Salah satu hambatan yang masih didiskusikan pro dan kontranya adalah pengaruh televisi terhadap minat membaca anak.

Beberapa indikator telah berhasil dikembangkan untuk membuktikan bahwa perilaku membaca anak telah terpengaruh oleh kehadiran televisi, salah satunya adalah perbandingan alokasi waktu luang yang digunakan untuk membaca dan menonton televisi. Studi yang dilakukan Rahma Sugihartati (1996) menemukan bahwa di kota Surabaya, anak-anak mengaku telah menghabiskan waktu untuk menonton televisi daripada membaca dan belajar. Fakta yang sama juga dijumpai di Belanda (Van der Voort dalam Verhoeven & Snow, 2001), disimpulkan bahwa kemunculan televisi berpengaruh terhadap penurunan kegiatan membaca waktu luang di kalangan remaja. Hal ini terutama terjadi ketika masa pengenalan awal televisi.

Meskipun banyak variabel yang perlu dikaji pengaruhnya, misalnya usia, tingkat pendidikan, tahap pengenalan televisi, serta sikap terhadap buku, televisi telah memunculkan perdebatan yang menarik karena menghasilkan 2 (dua) pendapat yang berbeda, yaitu televisi berpengaruh negatif dan positif terhadap perilaku membaca.

 

 

 

 

2.1.1.a. Televisi dan buku: Kelebihan dan kekurangan menonton televisi dan membaca buku

 

Dalam banyak kajian, beberapa hal telah diidentifikasi sebagai faktor yang menjadi alasan televisi lebih digemari daripada buku, diantaranya adalah yang dikemukakan oleh Tom H.A. van der Voort (dalam Verhoeven & Snow, 2001: 94-95):

  1. Televisi mampu memberikan sumber hiburan yang mudah dan atraktif daripada buku sehingga dirasakan langsung kepuasannya daripada buku.

  2. Karena lebih dirasakan menarik, televisi berpengaruh reduktif terhadap minat membaca buku. Pengaruh reduktif relevisi terhadap kemampuan berkonsentrasi anak umumnya terdapat pada langkah yang cepat dan perubahan gambar yang cepat dari program televisi. Hal ini yang mengurangi waktu untuk mencerna informasi yang disampaikan (seperti Greenfield, 1984), sehingga tidak diperlukan waktu lama untuk memahaminya. Dengan kondisi seperti ini, akhirnya televisi juga mampu memunculkan respon-respon pemikiran yang impulsif.

 

Senada dengan yang dikatakan Arini Hidayati (1998), bahwa televisi lebih disenangi karena sifatnya yang sederhana dalam menyampaikan pesan, sehingga anak mudah dapat memanfaatkan dan menerima pesan tersebut. Kemudahan ini ditunjang dengan sifatnya yang audio-visual (pandang dengar), sehingga informasi tersampaikan serta dicerna dengan sangat mudah oleh pemirsa, bahkan anak kecil sekalipun.

Dari kelebihan-kelebihan televisi di atas, mengakibatkan adanya reaksi yang mempertentangkan antara aktivitas menonton televisi dengan membaca buku. Membaca buku memerlukan waktu yang relatif lama karena tidak didukung oleh visualisasi sedangkan televisi menawarkan penciptaan gambar visual yang jelas bahkan ketika kata-kata tidak memadai untuk mengungkapkannya.

Namun juga diakui adanya kelebihan dari buku, seperti yang dikemukakan van der Voort (2001:95) yaitu terletak pada kemampuan buku yang sanggup memberi pengaruh positif pada kemampuan ekspresi anak secara oral dan tertulis. Ketika menceritakan kembali sebuah kisah, anak-anak yang telah terbiasa dengan cerita, secara verbal akan menggunakan bahasa yang lebih ekspresif dan merujuk pada sikap yang jelas serta spesifik berkaitan dengan karakter ceritanya (Beagles-Roos & Gas, 1983; Greenfield & Beagles-Roos, 1988 dalam van der Voort, 2001: 95-96). Hal ini mengakibatkan anak-anak yang menonton cerita dari televisi cenderung melihat lebih bias pada karakter dan elemen ceritanya. Akhirnya anak-anak yang lebih senang menonton televisi kurang mampu mengekspresikan diri mereka karena lebih banyak menyimak kisah dari gambar-gambar yang ada di televisi dan mengalihkan perhatian mereka dari kisah naratifnya.

Untuk membuktikan hal di atas, dalam sebuah eksperimen perbandingan media, yaitu kisah naratif antara dalam film dan buku. Hasil perbandingannya adalah ketika anak-anak diminta untuk menceritakan kembali sebuah kisah, didapatkan hasil bahwa anak-anak yang menonton lebih sukar menyampaikan kembali kisahnya dibandingkan para pembaca. Bagi anak-anak sebagai pembaca, sangat mudah menemukan kata yang sesuai karena mereka terbiasa menggunakan kisah verbal sebagai modelnya. Bagi anak-anak yang menonton filmya, sebaliknya mereka kesulitan karena harus mengalih-bentukkan gambar ke dalam kata-kata. Hal ini juga merupakan temuan yang memperkuat sebuah studi tentang essai karya anak-anak yang menunjukkan suatu hubungan yang jelas antara gaya menulis dan waktu yang digunakan untuk menonton televisi. Essai yang ditulis oleh penonton aktif televisi kurang tertata dengan baik. Mereka hanya mampu menghasilkan beberapa kata perkalimat dan menjabarkan secara eksternal dibandingkan dengan essai penonton yang kurang aktif menonton televisi (Watkins, Cojuc, Mills, Kaitek & Tan, 1981 dalam van der Voort, 2001: 96)

Lebih jauh lagi dikatakan oleh van der Voort, bahwa membaca buku tercetak akan menstimulasi imajinasi kreatif anak. Sejumlah perbandingan eksperimen media menunjukkan bahwa cerita tercetak membangkitkan respon kreatif dibandingkan cerita televisi. Ketika menceritakan kisah tercetak dan penggambaran kisah televisi, terbukti bahwa anak-anak yang membaca cerita cetak lebih mampu menceritakan kembali dengan membangun cerita lebih dengan imajinasi kreatifnya. Sedangkan anak-anak yang menonton kisah di televisi kurang distimulir oleh imajinasi kreatif disebabkan gambar televisi hanya memberikan sedikit ruang bagi pemirsa untuk menciptakan imajinasi mereka. Anak-anak yang menonton kisah di televisi akan mengalami kesulitan melepaskan diri dari gambar-gambar di televisi selam proses berpikir kreatif dan dengan demikian menjadikan mereka kurang mampu memunculkan ide-ide dibanding anak yang membaca materi tercetaknya.

 

2.1.1.b. Dampak Televisi pada Minat, Kemampuan dan Perilaku Membaca

 

Secara keseluruhan, sebagian besar studi korelasional yang pernah dilakukan memaparkan bahwa terdapat sebuah asosiasi negatif antara menonton televisi dengan kemampuan membaca. Bagaimanapun, temuan yang paling umum adalah bahwa meningkatnya frekuensi menonton televisi pada anak, berhubungan negatif dengan hasil test komprehensi membaca, yang artinya bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi naka akan semakin buruk hasil test komprehensi membaca. Sebagian besar studi ini menyimpulkan bahwa televisi telah menghambat pertumbuhan kemampuan anak, khususnya perkembangan komprehensi membaca.

Televisi juga dikaji tidak hanya menghambat perkembangan kemampuan membaca namun juga telah menggantikan kegiatan membaca di waktu luang serta kegiatan lainnya yang berkaitan dengan proses perkembangan kognitif anak. Contohnya, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa menonton televisi akan mengurangi waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah (Dorr, 1986), sehingga bisa dikatakan dapat mengganggu perkembangan kemampuan membaca.

Namun, berlawanan dengan dampaknya pada kemampuan membaca seperti yang diutarakan di atas, para ahli lainnya yaitu Chen mengatakan sebaliknya. Televisi bisa menimbulkan banyak kebaikan pada anak diantaranya menumbuhkan minat baca. Chen (1996) mengatakan dalam hasil penelitiannya bahwa televisi bisa mendorong anak membaca karya-karya tertentu. Dalam hal ini dia menerangkan dengan mengambil siaran Reading Rainbow di televisi. Dan terbukti bahwa acara televisi itu sangat disukai dan bisa meningkatkan minat anak untuk membaca buku Reading Rainbow. Memang diakui bahwa masing-masing media seperti televisi mempunyai kekurangan dan kelebihan , namun persoalannya adalah mampukah kedua hal tersebut digabungkan sehingga dapat dimungkinkan mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan. Hal ini merupakan langkah yang bijaksana dan di mata anak, orangtua tidaklah diktator, otoriter dan tanpa kompromi

Senada dengan yang dikemukakan Chen di atas, dalam batas-batas tertentu, televisi mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan sosial dan literasi anak seperti yang dikemukakan Arini Hidayati (1998: 80-88) bahwa:

Pertama, siaran televisi bisa menumbuhkan keinginan untuk memperoleh pengatahuan. Ini berarti bahwa beberapa anak termotivasi untuk mengikuti apa yang dilihatnya di layar televisi, mungkin dengan membaca buku atau majalah untuk meningkatkan pengetahuannya. Hal ini dikarenakan bahwa apa yang ditampilkan di layar televisi memang sangat terbatas. Suatu berita, informasi dan kejadian akan membuat anak semakin penasaran, apalagi jika informasi itu disiarkan secara tidak lengkap. Keingintahuan ini tentunya tidak langsung dapat diketahui anak, karena sifat televisi yang hanya searah sehingga dengan terpaksa anak akan mencari tambahan informasi dari luar. Timbulnya motivasi untuk mencari dan mengikuti apa yang ada di telivisi mencerminkan adanya keuletan yang mengarahkan anak dalam proses pencarian kelanjutan dari aktivitas komunikasi tak langsng yang didapat dari televisi, yang biasanya didapatkan dari buku, majalah, radio atau sumber-sumber lainnya. Untuk mengarahkan ke hal positif ini tentunya tergantung pada 2 (dua) hal, yaitu pertama, dibutuhkan keikutsertaan orangtua dalam aktivitas anak menonton televisi. Kedua tergantung pada anak itu sendiri, sampai seberapa jauh anak ingin mengeksplorasi pengetahuan lebih dari apa yang didapat dari televisi.

Kedua, televisi berpengaruh terhadap penambahan kosakata. Penambahan kosakata yang didapat dari televisi tentunya ada yang bisa dipahami oleh anak dan ada yang tidak. Oleh karena itu sampai sejauh mana anak bisa menggunakan televisi sebagai media pembelajaran tentunya tergantung pada keterlibatan orangtua dalam mendampingi anak menonton televisi. Bantuan orangtua untuk menjelaskan kosakata yang didapat dari televisi akan berdampak positif bagi aplikasi kosakata tersebut dalam berinteraksi sosial.

Ketiga, televisi memberikan pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari lingkungan sekitar, seperti perkembangan ilmu pengetahuan. Dari menonton televisi anak mampu mengembangkan wawasan yang luas di luar pembelajaran yang didapat dari sekolah. Melalui berbagai acara dari yang bersifat fiksi sampai dengan realita sesungguhnya anak akan mendapatkan gambaran tentang kehidupan dan segala macam persoalannya.

2.1.1.c. Dampak Positif Televisi: Bagaimana Membangun Keseimbangan

 

Temuan dari penelitian pengaruh televisi pada kegiatan membaca anak menyarankan empat rekomendasi berkenaan bagaimana dan kapan kegiatan membaca anak dapat ditingkatkan (Koolstra & van der Voort, 1996).

Pertama, untuk menstimulus kegiatan membaca anak dapat dilakukan dengan membatasi jumlah waktu yang mereka pergunakan untuk menonton televisi. Rekomedasi ini dilandasi oleh temuan bahwa upaya pengurangan temporer dari waktu menonton televisi berkaitan dengan peningkatan dalam jumlah waktu yang dipergunakan untuk membaca. Sebuah reduksi jumlah menonton televisi oleh anak dapat juga menjadi keuntungan bagi perkembangan kemampuan membaca anak. Walaupun studi ini dilakukan pada anak-anak usia muda (sekolah dasar) dan bukan pada remaja atau dewasa, tetapi berhasil memperoleh kesimpulan bahwa pengurangan aktivitas menonton televisi dapat mendorong perkembangan kemampuan membaca anak yang lebih muda. Namun tentu saja keberhasilan usaha ini bergantung dari peran orangtua dalam mengarahkan aktivitas anak dalam menonton televisi.

Kedua, orang tua dapat mendorong kegiatan membaca anak dengan membantu mereka bersikap selektif dalam penggunaan televisi. Meskipun adanya bukti penelitian mengatakan bahwa dalam agregasi, kegiatan membaca menurun sebagai sebuah hasil keterbukaan televisi, terdapat pula indikasi bahwa menonton tipe program televisi tertentu yang melayani promosi kegiatan membaca buku tertentu. Televisi dapat mendorong kegiatan membaca buku anak dengan menyiarkan film atau seri dari versi buku yang ada dan melalui program pembahasan buku dimana anak mempelajari tentang terbitan yang baru. Sebuah penggunaan televisi selektif dapat pula memberi pengaruh yang menguntungkan terhadap perkembangan kemampuan membaca anak. Sebagai tambahan, terdapat indikasi bahwa program edukasional televisi yang secara khusus dirancang agar dapat meningkatkan kemampuan anak (seperti Sesame Street dan The Electric Company) dapat meningkatkan kemampuan membaca dari anak-anak TK dan anak di tingkat pertama di sekolah dasar.

Ketiga adalah pengukuran dirancang untuk mempromosikan kegiatan membaca anak akan difokuskan pada anak-anak muda dan orang tua. Tumbuh berkembang bersama dengan televisi berarti bahwa pada usia yang relatif muda, sebelum anak-anak mulai berbicara, dibiarkan untuk membaca sendiri, menonton televisi dapat menjadi menjadi sebuah bagian perilaku, memberikan televisi sejumlah keuntungan dari buku, sebuah arah yang sukar untuk dikejar ketika anak pada usia dimana mereka siap untuk membaca. Karena dari usia anak yang dini lebih memiliki sumber perhatian yang menarik dan sederhana untuk dipergunakan, mereka tidak mempelajari asyiknya membaca. Maka, kurang dapat disarankan untuk menaruh perhatian pada pengukuran yang dirancang agar meningkatkan membaca pada anak-anak yang lebih muda, dengan demikian membaca untuk hiburan tilah diperlihatkan sebagai aktivitas yang cukup stabil yang muncul pada usia 8 tahun (Koolstra & van der Voort, 1996).

Keempat, temuan bahwa televisi akan mengurangi kegiatan membaca anak dan menghambat perkembangan kemampuan membaca dengan mengacaukan sikap anak terhadap membaca mengatakan bahwa pengukuran sebaiknya difokuskan pada promosi asyiknya membaca. Secara tertentu, sebagaimana banyak para ahli pada bidang ini menyatakan, sekolah sebaiknya kurang menekankan pada membaca untuk perolehan informasi dan lebih memberi ruang untuk membaca untuk hiburan.

 

2.1.2. PERILAKU MEMBACA DI ERA DIGITAL

 

Sejak kemunculan teknologi digital yang diiringi dengan adanya peningkatan dalam penggunaannya, tercatat banyak pula kajian yang mendiskusikannya, diantaranya adalah kajian tentang dampak dari media digital terhadap kegiatan membaca. Kajian ini telah menyebar menjadi obyek penelitian yang interdisipliner mulai dari ilmu komputer, pendidikan, studi literasi, dan ilmu infomasi dan perpustakaan. Tiap disiplin mengembangkan fokus penelitian dan metodologi yang unik antara satu dengan lainnya.

Inovasi teknologi digital memang harus diakui telah memberikan solusi bagi masyarakat terutama ketika masyarakat dihadapkan pada persoalan meledaknya jumlah informasi. Dengan pertumbuhan jumlah informasi yang semakin meningkat maka teknologi digital memungkinkan pencari informasi dapat mengakses informasi dengan lebih mudah dan cepat. Namun demikian kemudahan teknologi informasi digital yang tersedia ini mengakibatkan meningkatnya pula jumlah waktu yang disisihkan oleh seseorang untuk membaca media elektronik. Hal ini telah membawa pengaruh pada perilaku membaca masyarakat.

Bagaimanakah sebenarnya dampak teknologi digital pada perkembangan minat dan perilaku membaca masyarakat?

 

2.1.2.a. Dampak Teknologi Digital terhadap Perubahan Perilaku Membaca.

 

Dari banyak kajian yang dilakukan, sikap terhadap dampak teknologi digital bisa dibagi menjadi 2 (dua) yaitu kelompok yang beranggapan bahwa teknologi digital mengancam perkembangan perilaku membaca dan kelompok yang menyatakan bahwa teknologi digital hanya mengubah sifat aktivitas membaca.

 

Teknologi digital berdampak negatif pada perilaku membaca

Sejumlah ahli berpendapat bahwa kehadiran media digital bersamaan dengan fragmentasi dari hypertext justru mengancam keberlanjutan kegiatan membaca (Birkets, 1994; Healy, 1990 dalam Ziming Liu, 2008: 53-70). Birkets (1994) lebih lanjut juga menyatakan bahwa pada generasi yang lebih muda jika tumbuh dewasa didalam lingkungan digital akan mengurangi kemampuan untuk membaca.

Kelemahan lainnya juga dikemukakan oleh McKnight (1997) yang memberikan pendapat yang menarik mengenai perilaku membaca pada media elektronik, yaitu dari hasil pengamatan diperoleh bahwa orang-orang tidak suka untuk membaca dari layar/ screen. Mereka memilih untuk mencetak dokumen elektronik agar dapat dibaca. Dia berpendapat bahwa tren dalam menyusun dokumen elektronik dalam format pdf juga mengurangi minat seseorang untuk membaca di layar dan mendorong untuk melakukan cetak dokumen. Masyarakat cenderung untuk mencetak dokumen karena dapat dilihat secara keseluruhan dibandingkan jika membaca pada layar. Masyarakat juga lebih memahami dalam mengorganisir dan memanipulasi dokumen kertas, namun jika memanipulasi dokumen elktronik, itu membutuhkan kemampuan tersendiri.

Apa yang dikemukakan oleh McKnight di atas didukung oleh sebuah studi terbaru mengenai kegiatan membaca di National University of Mexico, yaitu Ramirez (2003) menemukan bahwa hampir 80 % siswa lebih memilih untuk membaca materi cetak yang sudah didigitalkan agar dapat memahami teks dengan jelas. Hampir 68 % dari responden melaporkan bahwa mereka memahami dan memperoleh lebih banyak informasi ketika membaca media cetak. Bagaimanapun, hanya 4 % responden yang melaporkan kondisi sebaliknya. Rendahnya resolusi dari monitor komputer adalah faktor utama dari seseorang mencetak dokumen (terutama dokuen yang panjang) untuk dibaca.

Studi terbaru menunjukkan bahwa membaca dari monitor 30 % lebih lambat daripada membaca teks tercetak. (AlShaali dan Varshney, 2005; Hartzell, 2002). Murphy dan para peneliti lain (2003) fokus pada persuasi dari teks terfcfetak dan elektronik. Mereka menyatakan bahwa mahasiswa, yang membaca teks online, merasa sulit untuk memahami, kurang tertarik, dan para pengarang dinilai kurang kredibel daripada mereka yang membaca teks dalam versi cetak.

 

Teknologi digital berdampak positif pada perilaku membaca

Namun Bolter (1991) berpendapat lain, perubahan dari media cetak ke komputer tidak berarti berakhirnya era literasi itu sendiri, namun literasi terhadap koleksi cetak, tekhnologi elektronik memberikan jenis buku baru dan cara baru dalam menulis dan membaca. Media digital berkontribusi terhadap sebuah perubahan transformatif dalam membaca. Mereka juga memperkenalkan sejumlah keuntungan yang secara tradisional tidak terdapat pada dokumen cetak, seperti interactivity, nonlinearity, immediacy dalam mengakses informasi, dan konvergensi dari teks, gambar, audio, dan video (Landow, 1992; Lanham, 1993; Murray, 1997; Ross, 2003).

Terkait dengan jenis buku baru dalam era digital, Lanham (1995) membandingkan perbedaan antara literasi cetak dengan literasi digital. Dia menegaskan bahwa di era cetak, ide dan ekspresi menjadi satu secara virtual. Pengertian terbentuk dari kata; kata menimbulkan arti. Literasi digital bekerja dalam cara yang berbeda. Literasi digital dapat meningkatkan kemampuan kita membuat informasi menjadi lebih sesuai pada penerima informasi (misal, seseorang yang cacat).

Terlepas dari seseorang menyukai media digital atau tidak, membaca dan literasi menjadi sesuatu yang diberi pengertian yang baru lagi setelah kedatangan teknologi digital. Pengenalan media baru membawa kemungkinan positif dan negatif. Dalam sebuah studi mengenai dampak media terhadap kebiasaan membaca seseorang antara tahun 1970an hingga 1990an, Knulst dan para peneliti lainnya (1996) menemukan bahwa ”media baru membutuhkan para pengguna/ user untuk mengartikulasikan preferensi ereka secara lebih eksplisit ... Menggunakan sebuah panel kontrol, user dapat menentukan keinginannya hingga ke detail terkecil, dan hal ini akan dikonfrontir setiap saat dengan hasil dari preferensi yang dimiliki. Di dunia multimedia, seseorang tidak akan didorong untuk menunggu hingga mereka mengetahui lebih banyak mengenai sebuah subyek sebelum mereka menekan tombol untuk beralih ke proses selanjutnya, atau membuka diri mereka snediri terhadap sudut pandang yang tidak mereka ketahui. Dan hal ini merupakan suatu penghargaan yang besar dalam budaya membaca.”

 

2.1.2.b. Aktivitas Membaca di Era Digital: Beberapa Proses

Di era digital membaca bukanlah aktifitas tunggal. Membaca merupakan perilaku yang kompleks dan berubah-ubah/ variable. Membaca melibatkan berbagai tujuan yang berbeda dan membutuhkan banyak skill yang berbeda pula dalam menangani dokumen.

Di era digital kegiatan membaca masyarakat diawali dengan kegiatan browse dan menemukan banyak hal secara kebetulan. Selain itu, kegiatan scanning (sebuah pola membaca yang diasosiasikan dengan dokumen cetak) dilakukan tidak hanya berarti untuk menegetahui lokasi informasi pada sebuah dokumen, namun juga untuk mendapat sense dari keseluruhan teks.

Karena diperlukan proses pencarian informasi terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan membaca, di era digital, masyarakat membutuhkan lebih banyak waktu untuk membaca. Dua faktor utama yang berkontribusi pada meningkatnya waktu membaca: ledakan informasi dan teknologi digital. Dokumen digital mudah untuk dicari, dan juga memberikan lebih banyak kesempatan untuk dapat mengakses lebih banyak informasi. Sebagai contoh, sebuah dokumen di web memiliki rata-rata sembilan link (Almind dan Ingwersen, 1997). Ini artinya bahwa ketika seorang user mengakses sebuah dokumen web, dia disaat yang sama memiliki kesempatan untuk mengakses sembilan dokumen yang lain. Masalah lain yang perlu diperhatikan disini adalah bahwa masyarakat dihadapkan dengan isi dan variasi informasi.

 

Screen Based Reading

Meningkatnya mekanisasi cetak memudahkan perubahan dari membaca intensif ke membaca ekstensif. Sebelum adanya teknologi digital, masyarakat membaca secara intensive. Mereka hanya memiliki beberapa buku untuk dibaca dan mereka membaca berulang kali. Di era digital, masyarakat mulai membaca seseuatu secara extensive, mereka membaca semua materi, terutama terbitan berkala dan koran, dan berpindah dari satu item ke item yang lain (Darnton, 1989). Dari evolusi membaca, tidak sulit untuk membayangkan bahwa browsing atau scanning menjadi sebuah prinsip pola membaca dalam lingkungan digital. Dengan meningkatnya waktu yang disisihkan untuk membaca dokumen elektronik, perilaku screen-based reading menjadi menonjol. Pola perilaku screen-based reading ditandai dengan lebih banyak waktu pada browsing, scanning, keyword spotting, one-time reading, nonliniear reading, dan membaca dengan lebih selektif; di lain pihak, kurangnya waktu untuk in-depth reading, concentrated reading, dan mengurangi perhatian yang berkelanjutan.

 

Lebih banyak melakukan Browsing/Scanning dan Keyword Spotting

Selain itu aktivitas membaca di era digital selain dibutuhkan lebih banyak proses Browsing dan Scanning juga Keyword Spotting. Karena pertumbuhan jumlah jurnal ilmu pengetahuan dan ekspansi dari volume jurnal, para pembaca jurnal tidak dapat terus bertahan dengan mengandalkan literatur yang ada, melainkan dituntut untuk melakukan skimming artikel jurnal. Trend ini cenderung lebih diintensifkan dalam lingkungan web. Sebagian besar orang cenderung untuk membaca hanya bagian pertama saja dari teks. Scanning memberikan cara yang efektif untuk menyaring sejumlah informasi yang ada. Namun di lain pihak, scanning justru mengurangi pembelajaran seseorang (Eveland dan Dunwoody, 2001). Fakta membuktikan bahwa pengguna teknologi digital ketika mencari informasi untuk dibaca mengakui kesabaran untuk membaca dokumen yang panjang mulai berkurang. Mereka cenderung ingin melompat langsung ke akhir teks dokumen tersebut. Akibat tidak memiliki kesabaran untuk membaca setiap kata yang ada. Mereka lebih memilih skimming dan mencari informasi yang diinginkan ketika membaca. Menurut studi dari Poynter Institute (2000), pengguna web cenderung melakukan banyak brief scanning, memungut dengan cepat pada banyak ringkasan artikel, namun ketika ketertarikan mereka menangkap suatu hal maka mereka akan mendalami topik khusus tersebut. Masyarakat juga menggunakan keyword spotting sebagai strategi untuk melokalisir informasi yang dibutuhkan sebagai cara untuk mengatasi linkungan informasi yang telah overload.

 

Peningkatan One-Time Reading dan Selective Reading

Di era digital, dokumen yang dibaca dalam sekali waktu (one-time reading) mengalami peningkatan. Mengingat waktu yang disisihkan untuk membaca terbatas dan mereka tidak dapat menahan laju pertumbuhan produksi informasi, ini artinya persentase dokumen yang dibaca akan semakin kecil. Dilain pihak, persentase yang lebih besar dari dokumen yang dibaca hanya pada satu waktu tertentu. Masyarakat cenderung untuk lebih selektif ketika berhadapan dengan sejumlah besar informasi. Kita tidak mampu untuk memberikan perhatian pada setiap informasi hanya karena mereka tersedia disitu (Levy, 1997). Masyarakat perlu mengalokasikan perhatian kita dengan lebih selektif. Dalam pencarian informasi yang relevan, pembaca cenderung untuk menunjukkan tingkat selektifitas yang lebih sering dan lebih jelas, dimana itu menggiring pada pemahaman yang lebih parsial namun mendalam (Topping, 1997).

 

Peningkatan Nonlinear Reading dan Penurunan Perhatian

Waktu yang disisihkan untuk melakukan nonlinear reading meningkat, serta mengalami penurunan dalam sustained attention. Aktivitas membaca dilakukan secara melompat pada beberapa link yang berbeda, dan menangkap sebagian kecil informasi kemudian berpindah lagi ke link yang lain tidak hanya merupakan hal yang berbeda namun juga pengalaman yang melelahkan.

Dalam lingkungan dokumen cetak, teks itu sudah pasti dan pengarang menentukan aturan dimana ide tersebut dipresentasikan. Di hypertext, pengarang memberikan pilihan, namun pembaca memilih aturan yang ada dengan mengatifkan link yang ada (Ross, 2003). Kehadiran hypertext memungkinkan kegiatan membaca lebih nonlinier (misalnya, melompat-lompat). Hyper-reading juga mempengaruhi sustained attention dan memberi kontribusi untuk lebih membaca secara terfragmentasi, mengingat setiap halaman berkompetisi untuk merebut perhatian dari pembaca. Birkerts (1994) dan Stoll (1995) menyatakan bahwa lingkungan digital cenderung mendorong orang untuk menggali lebih banyak topik secara ekstensif, naun pada tingkatan superficial. Miall dan Dobson (2001) juga menemukan bahwa ”hypertext mengurangi mode penyerapan dan refleksi yang merupakan karakteristik dari literdacy reading.” Thirunarayanan (2003) mengamati bahwa ”jika sebuah halaman web tidak muncul dalam tiga detik, orang akan memilih untuk meng-klik pada halaman web yang lain. Clicking segera menjadi pengganti kegiatan berpikir.

 

Penurunan In-Depth dan Concentrated Reading

Eveland dan Dunwoody (2001) menemukan bahwa sangat sulit bagi pembaca untuk memberikan perhatian penuh untuk membaca karena mereka harus menentukan teks mana yang dibaca, dimana hyperlink akan mengikuti, dan dapat juga dengan melakukan scroll down pada sebuah halaman. Lebih dangkal dan kurang mendalam ketika membaca adalah fitur lain dari membaca secara “hyper-extensive”.

Ketika masyarakat hari ini menghabiskan waktu lebih banyak untuk membaca daripada yang mereka lakukan pada media cetak dimasa lalu, kedalaman dan konsentrasi dihubungkan dengan membaca menjadi diabaikan. Konsentrasi ini terganggu diantaranya juga karena aktivitas digital lainnya (misal, e-mail) ketika banyak window yang terbuka. Banyak orang, khususnya kaum muda, cenderung untuk bekerja secara simultan pada beberapa tugas dengan membuka banyak multiple windows. David Meyer menemukan bahwa orang yang berhubungan dengan perilaku multitasking, seperti mengerjakan dua tugas secara bolak-balik, akan mebutuhkan waktu 50% lebih banyak pada tugas-tugas tersebut daripada jika mereka hanya berkonsentrasi pada satu tugas sebelum memulai tugas yang lain (Richtel, 2003)

 

Annotating dan Highlighting

Masyarakat juga suka melakukan anotasi ketika mereka membaca, khususnya ketika in-depth reading pada dokumen cetak. Studi dari Olsen (1994) menemukan bahwa 63% responden yang diwawancara menyukai melakukan anotasi atau menggarisbawahi artikel. Melakukan anotasi dan highlighting ketika membaca adalah aktifitas umum dalam lingkungan dokumen cetak.

Mengapa kurang suka menganotasi atau melakukan highlight pada dokumen digital? Kelihatannya bahwa banyak orang yang mencari atau browse dokumen digial, tapi ketika mereka butuh untuk melakukan in-depth reading pada beberapa dokumen, mereka akan mencetak dan kemudian menganotasi dokumen yang dimaksud.

 

Mencetak Untuk Membaca

Sejumlah studi menyimpulkan bahwa ketika komputer telah melayani kita dengan baik dalam menemukan informasi, komputer juga memberikan alat yang sesuai untuk membaca informasi tersebut (Levy, 1997; Sellen dan Harper, 1997; 2002). Tampilan yang ada sekarang lebih mudah untuk dibaca, walaupun masih kurang jika dibandingkan dengan kertas. Sathe, Grady, dan Giuse (2002) melaporkan bahwa kemampuan untuk mencari jurnal elektronik yang telah dikutip adalah sebuah keuntungan, sementara banyak orang masih memilih readability dari jurnal tercetak. Walaupun e-book sangat portable, isu-isu seperti readability, ukuran layar, dan perpindahan halaman yang lambat tetap ada (Buzzeto-More, Sweat-Guy dan Elobaid, 2007).

Sebuah laporan dari OCLC (Online Computer Library Center) terhadap kebiasaan informasi mahasiswa (2002) menunjukkan bahwa mereka berulangkali menyatakan kebutuhan mereka untuk mencetak dokumen elektronik. Walaupun orang-orang menghabiskan banyak waktu didepan komputer, mereka tetap tidak ingin membaca lama di komputer. Mereka cenderung mencetak ketika berhadapan dengan dokumen yang lebih dari tiga halaman (Rogers, 2006).

Memahami perilaku membaca di era digital adalah hal penting dilakukan dalam kerangka tujuan agar bisa memprediksi bahwa perubahan perilaku membaca di masa yang akan datang akan melibatkan teknologi elektronik. Sebuah respon yang positif perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi bahwa tidaklah dapat dihindari untuk mempersiapkan peran teknologi digital dalam mendorong ketertarikan pada aktivitas membaca.

 

3. DAFTAR PUSTAKA

 

Chen, Milton, 1996. Anak-anak dan Televisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Hidayati, Arini, 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

 

Liu, Ziming, 2008. Paper to Digital – Documents in the Information Age. London: Libraries Unlimited.

 

Sugihartati, Rahma, 1997, Televisi dan Minat Baca Anak, Studi Tentang Pengaruh Televisi Terhadap Minat Membaca Anak dan Perang Orang Tua Dalam Menumbuhkan Perilaku Gemar Membaca Pada Anak. Surabaya: Lemlit Unair.

 

Verhousen, Ludo and Snow, Catherine, 2008. Literacy and Motivation. London: Lawrence Erlbaum Associates Publisher.

 

 

 

---ooOoo---

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

time

indonesia united

lumba-lumba darat

Pengunjung

    319.972