Gee Dee Blog

Berpacu menjadi yang terbaik

ragam teori informasi

diposting oleh kurniawan-h--fisip08 pada 14 November 2011
di teknologi informasi - 0 komentar

Ragam Teori Informasi
Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jakarta, 19 September 2006
Putu Laxman Pendit, Ph.D
Perpustakaan Pusat Universitas IndonesiaTeori informasi
Informetrika dan
bibliometrika
Information
retrieval
Sistem
informasi
Teori kognitif
Perilaku
informasi
Masyarakat
informasi
Kebijakan
informasi
Matematika
statistika
Telekomunikasi
enjinering
komunikasi
Sosiologi ilmu
Ilmu kognisi
Linguistik
sibernetika
Ilmu organisasi
Ekonomi
Psikologi
Sosiologi
Teori-teori
kebudayaan
Politik dan
kebijakan
publik
Sifat Multidisipliner Ilmu Informasi Teori informasi
Informetrika dan
bibliometrika
Information
retrieval
Sistem
informasi
Teori kognitif
Perilaku
informasi
Masyarakat
informasi
Kebijakan
informasi
Matematika
statistika
Telekomunikasi
enjinering
komunikasi
Sosiologi ilmu
Ilmu kognisi
Linguistik
sibernetika
Ilmu organisasi
Ekonomi
Psikologi
Sosiologi
Teori-teori
kebudayaan
Politik dan
kebijakan
publik
Sifat Multidisipliner Ilmu Informasi Teori Matematik tentang Informasi
(1)
• Claude Shannon, “A Mathematical Theory of Communication”
(1948) , ilmuwan matematik yang membantu perusahaan Bell
mengembangkan teknologi telekomunikasi.
• Efisiensi pengiriman infomasi melalui saluran. memandang
informasi sebagai simbol-simbol yang dipertukarkan, mengirim
simbol-simbol itu dari satu titik di suatu tempat ke titik lain di
tempat lainnya.
• jumlah informasi yang dapat dikaitkan, atau dihasilkan oleh,
sebuah keadaan atau kejadian (atau realisasi dari sebuah
situasi tertentu) merupakan tingkat pengurangan (reduksi)
ketidakpastian, atau pilihan kemungkinan, yang dapat muncul
dari keadaan atau kejadian tersebut.  Teori Matematik tentang Informasi
(2)
Source Encoder Channel Decoder Destination
NoiseMengirim
pesan
orisinal
SUMBER
Mengubah pesan
menjadi kode
(codeword)
ENCODER
Dapat
menimbulkan
gangguan
SALURAN
1011 1011010
1010010 1011
Mengoreksi dan
mengembalikan pesan ke
bentuk aslinya
DECODER
Menerima
pesan orisinal
PENERIMA
Teori Matematik tentang Informasi
(3)Bibliometrika dan Informetrika (1)
• Bibliometrika berkembang dari perhatian terhadap dinamika
ilmu pengetahuan sebagaimana tercermin dalam produksi
literatur ilmiahnya. Ada beberapa bidang “klasik”, yaitu:
– produksi ilmu pengetahuan sejalan dengan waktu dan menurut
negaranya (Cole dan Eagles)
– Persoalan perpustakaan dalam mengendalikan karya ilmiah
(Bradford)
– Produktivitas ilmuwan menghasilkan karya tulis (Lotka)
• Karena menggunakan statistik untuk mengkuantifikasi
dokumen, pada awalnya disebut “statistical bibilography”.• Librametry sempat muncul di tahun 1948, diusulkan oleh
Ranganathan, berkembang menjadi kajian statistik tentang
library management.
• Scientometrics (noukometriya) diusulkan tahun 1969 oleh
ilmuwan Rusia Nalimov dan Mul’chenko. Berkembang menjadi
“the quantitative study of science and technology”, misalnya
membuat S & T indicators. Mengukur praktik penelitian, struktur
organisasi, manajemen, peran dalam ekonomi, dsb.).
• Scholarly communication studies. Populer dalam sociology of
science.
• Informetrics (informetrie), pertama diusulkan oleh Nacke tahun
1979, pengukuran fenomena informasi dengan matematika,
terutama dalam kaitan dengan information retrieval.
Bibliometrika dan Informetrika (2)• Menurut Wilson (1999), perlu re-adjustment dalam istilah;
kesalahan pada pengertian “metrika” (metrics); ilmuwan dengan
latarbelakang sains cenderung memandang  scientometrics
sebagai berbeda dari informetrika maupun bibliometrika. Kaum
dokumentalis membedakan antara “memberi jasa informasi
kepada ilmuwan” dan “menyediakan buku”.
• Sekarang ini jaman teknologi informasi, istilah informasi dianggap
lebih luas, maka Wilson mengatakan: informetrics covers and
replaces the field of bibliometrics, including citation analysis, and
includes some recent subfields such as Webometrics. It is distinct from
theoritical information retrieval with respect to goals, and librametrics
with respect to both goals and often its objects of analysis. It overlaps
strongly with scientometrics, and less so with scholarly communication
studies, with respect to the analysis of scientific literature.
Bibliometrika dan Informetrika (3)• Citation analysis. Cabang informetrika paling besar. Dinamakan
juga citation studies. Fokusnya pada publication-to-publication
link. Perbedaan utama dengan reference analysis adalah pada
kenyaaan bawa reference list di dalam setiap dokumen bersifat
intrinsik, sementara daftar sitasi bersifat ekstrinsik.
• Word related analysis. Menganalisis penggunaan bahasa di
dalam dokumen, penulisan judul, co-word analysis, content
analysis.
• Author related analysis. Distribusi frekuensi publikasi dari
seorang pengarang, kolaborasi, co-author matrices, ciri-ciri
pengarang, afiliasi, gender, dan sebagainya.
• Time and growth studies. Pentingnya waktu sebagai determinan
dalam perkembangan ilmu dan literaturnya sudah dikenali sejak
awal oleh para pionir bibliometrika, yaitu Cole dan Eagles.
Tentu yang paling jelas terpengaruh oleh waktu adalah
besarnya jumlah literatur di sujbek tertentu.
Bibliometrika dan Informetrika (4)Information Retrieval (1)
Empat tokoh:
1. Mortimer Taube (1910 – 1965), pustakawan Library of
Congress, mengembangkan “coordinate indexing”.  yang
berbasis uniterms dan mengaplikasikan logika Boolean.
2. Hans Peter Luhn (1896 – 1964) pertamakali menciptakan
aplikasi komputer, menghasilkan sebuah “electronic searching
selector” yang diberi nama Luhn Scanner.
3. Calvin C. Mooers (1919 – 1994) pertamakali secara “resmi”
menggunakan istilah information retrieval. Ahli matematik,
dan dikenang sebagai  pencipta Mooers’ Law for Information
Retrieval Systems.
4. Gerard Salton (1927 – 1995) memperkenalkan System for
the Manipulation and Retrieval of Text (SMART) yang menjadi
pendorong bagi banyak peneliti lain untuk serius memikirkan
text retrieval. Information Retrieval (2)
• Menurut Robertson (2000), tidak ada overall theory dalam IR
dan tidak ada teori yang kuat tentang IR, sebab bidang IR
pada umumnya pragmatis :
– commercial pragmatism yang didorong oleh kepentingan pasar
dan kepuasan pelanggan,
– technological pragmatism yang mengejar kinerja teknologi tetapi
tidak mempersoalkan aspek why.
• Dia mengatakan bahwa IR punya low-level theoritical
arguments, tetapi tidak punya Grand Theory. Sama dengan
membagun jembatan, memakai berbagai teori, tetapi tidak
ada Grand Theory tentang jembatan. Dalam IR, menurut
Robertson, kita menggunakan teori dari ilmu kognitif,
linguistik, epistemolgi, ontologi, statistik probabilitas, … and
probably other things.Information Retrieval (3)
• Empat model klasik:
– Logical models – sejak lama menggunakan Boolean logic (and, or,
not). Alternatif temuan hanya dua: cocok dan tidak cocok.
– Vector processing models – memperlakukan indeks sebagai
multidimensional information space. Dokumen dan query diwakili
oleh nilai-nilai vektor sehingga keduanya memperlihatkan posisi dekat
atau jauh. Non binary, degree of similarity.
– Probabilistic models – berasumsi bahwa sistem IR bertugas membuat
urut-urutan (ranking) dokumen sesuai kemungkinannya dalam
menjawab kebutuhan informasi. Menggunakan teori probabilitas untuk
menghitung nilai relevansi dokumen.
– Cognitive models – memfokuskan diri pada interaksi antara pengguna
dan sistem IR, tidak hanya dalam persoalan dokumen dan query. Lebih
mempersoalkan antar-muka katimbang proses komputasi penemuan
dokumen.Information Retrieval (4)
• Taksonomi model IR (Baeza-Yates dan Ribeiro-Neto, 1999):
U
s
e
r
T
a
s
k
Retrieval:
• Adhoc
• Filtering
Browsing
Classic Models:
• boolean
• vector
• probabilistic
Structured Models:
• Non-overlapping lists
• Proximal nodes
Set theoritic:
• fuzzy
• extended boolean
Algebraic:
• generalistic vector
• laten semantic index
• neural networks
Probabilistic:
• inference network
• belief network
• Flat
• Structure Guided
• HypertextInformation Retrieval (5)
• Penggunaan Language Modeling Penggunaan Language Modeling Penggunaan Language Modeling Penggunaan Language Modeling atau statistical language
modeling muncul sebagai probabilistic framework yang baru,
bermaksud menangkap ketidakteraturan statistis yang menjadi ciri
dari ketidakteraturan penggunaan bahasa. Sebuah language model
(disingkat LM) adalah model tentang distribusi kondisional dari
identitas kata yang kesekian dalam sebuah rangkaian, yang
ditentukan oleh identitas dari semua kata-kata sebelumnya. Dalam
trigram model, bahasa tertulis diandaikan dengan memakai model
matematik “second-order Markov process”. Dapat dikaitkan
dengan teori Zipf tentang frekuensi kemunculan kata. Juga dengan
teori Shannon “prediction game involving n-grams”. Selama
beberapa tahun kemudian, LM dipakai untuk automatic speech
recognition. Sejak 1980, LM menjadi komponen penting dalam
machine traslation dan error spelling. Juga dalam natural language
processing task, dan summarization. Akhir tahun 1990an
diperkenalkan ke IR dan kini menjadi salah satu cabang penting.  Teori Sistem Informasi (1)
• “Sistem informasi” (information system) - penggunaan sistem
komputer di dalam kegiatan manajemen. Sering disebut
“manajemen sistem informasi”: perencanaan sistem, perawatan,
sampai pengukuran kinerja. Mencakup mesin atau perangkat
keras, perangkat lunak, dan manusia (perancang, pengelola,
pengguna) serta segala persoalan dan perilaku mereka.
• Gregor (2005), mengatakan sistem informasi adalah bidang
pengetahuan tentang dunia sistem fisik, dunia perilaku manusia,
dan dunia artefak buatan. Menolak pandangan bahwa sistem
informasi merupakan bagian dari “organizational behaviour”, dan
bukan juga tentang teknologi semata, seperti yang dikaji oleh ilmu
komputer.
• Lee (2001): research in the information systems field examines
more than just the technological system, or just the social system,
or even the two side by side; in addition, it investigates the
phenomena that emerge when the two interact.Ragam topik penelitian tentang information systems
Palvia, Midha, dan Pinjani, 2006Teori Sistem Informasi (2)
• Pada pertengahan abad XX dimulai penyelidikan terhadap peran
data dan informasi tentang barang dan jasa dalam pengelolaan
ekonomi. Tiga ilmuwan pionir: Friedrich von Hayek, George B.
Richardson, dan Jacob Marschak mengarahkan perhatian peneliti
kepada fenomena institusi ekonomi/bisnis sebagai organisasi yang
mengendalikan proses pengambilan keputusan dan pengolahan
informasi.
• Teori kekayaan informasi dalam sebuah organisasi (Information
Richness Theory atau IRT) diperkenalkan oleh Daft dan Lengel
(1986) untuk menjawab pertanyaan sentral, “mengapa sebuah
organisasi perlu mengolah informasi”. Organisasi selalu
menghadapi dua persoalan besar yang berkaitan dengan informasi,
yaitu ketidak-pastian (uncertainty) dan ketidak-jelasan
(equivocality).Teori Sistem Informasi (3)
• Markus (2002) menghimpun berbagai pemikiran tentang penolakan
atau resistensi terhadap sistem informasi  “ragam teori
resistensi” (theories of resistance). Titik tolak : sikap manusia
terhadap teknologi (Rob Kling, 1980). Ada tiga sumber penolakan :
– di dalam diri orang atau kelompok dalam sebuah organisasi,
– sifat dan karakter teknologi yang terkandung sistem informasi
– interaksi antara karakteristik orang dalam suatu organisasi dan
karakteristik sistem itu sendiri
• Adaptive Structuration Theory (lihat gambar)Adaptive Structuration Theory
Dimensi teknologi
Dimensi sosial
Penggunaan sumberdaya
organisasi berupa
peraturan, nilai,
kesepakatan
Karakter teknologi yang
tercermin dalam fitur dan
general spirit
Apropriasi:
penggunaan yang
sesuai/tidak
sikap terhadap teknologi
tingkat konsensus antar
pemakai
sistem
reproduksiTeori Sistem Informasi (4)
• Technological frames analysis (Orlikowski & Gash, 1991)
mengajukan teori tentang bagaimana asumsi, harapan, dan
pengetahuan orang-orang tentang teknologi informasi
mempengaruhi penerimaan aplikasi TI dalam suatu organisasi.
Frame di sini diartikan sebagai sebuah  cognitive device di
kepala manusia. Konsep tentang ‘frame’ dalam kajian sistem
informasi dapat dilacak ke belakang sampai ke Boland (1978)
yang beranggapan bahwa kesenjangan pemahaman antara
pengguna sistem dan analis-sistem muncul akibat kesenjangan
dalam cognitive frame ini.
• Cognitive effort perspective (Payne, et al, 1993) dan teori
Production Paradox (Carroll dan Rosson, 1987) dipakai dalam
penelitian sistem informasi untuk meneliti mengapa pengguna
enggan menggunakan informasi yang tersedia dalam sebuah
sistem. Teori-teori ini mengaitkan proses informasi dengan
struktur kognisi seseorang.  Teori Kognitif tentang Informasi (1)
• “Ragam ilmu kognitif” (cognitive sciences) sudah dimulai sejak
1956 di dalam ilmu psikologi. Istilah “ilmu kognitif” dipakai oleh
Christopher Longuet-Higgins tahun 1973, dalam kaitan dengan
perkembangan penelitian pembangunan mesin yang dapat
meniru kecerdasan manusia, atau yag dikenal dengan
kecerdasan buatan (artificial intelligence).
• Memiliki setidaknya tiga cabang atau tiga pendekatan, yaitu:
– Simbolik (symbolic) –kognisi dijelaskan sebagai kegiatan yang
sistematis dan mengandung perintah-perintah terstruktur
– Koneksionis (connectionist) – kognisi digambarkan sebagai sebuah
jaringanyang  kemudian dapat dibuatkan bentuk artifisialnya
(artificial neural networks).
– Dinamika sistem (dynamic systems) – kognisi merupakan sebuah
keadaan yang terus menerus dalam sebuah sistem dinamis.  Teori Kognitif tentang Informasi (2)
• GOFAI (Good Old Fashioned Artificial Intelligence) didasarkan
pada Cartesianism (kecerdasan merupakan sesuatu yang
independen dari keberadaan tubuh biologis) mengandalkan
reduksi bahwa kecerdasan = rasiosinasi = pemrosesan simbol =
komputasi. Eksperimen Dartmouth Summer Research Project
on Artificial Intelligence tahun 1956. Dipimpin oleh John
McCarthy, pengembang LISP, bahasa pemrograman untuk
Kecerdasan Buatan yang paling populer. Kegiatan
eksperimennya dikenal dengan nama Turing’s Test.
• Embodied philosophy (dikenal juga sebagai embodied mind
thesis, embodied cognition atau embodied cognition thesis)
adalah argumen George Lakoff yang menolak Cartesianism.
Justru menganggap  pikiran hanya dapat dipahami dalam
kesatuan dengan tubuh biologis. Banyak mengaitkan pikiran
dengan linguistik.  Teori Kognitif tentang Informasi (3)
• Cognitive viewpoint (sisi pandang kognitif) agak berbeda dari
kognitivisme. Salah satu tokohnya M. De Mey yang tahun 1977
mengaitkan kognisi manusia dengan pemrosesan informasi.
Setiap pemrosesan informasi diperantarai oleh pengkategorian
dan pengenaan konsep. Kategori dan konsep ini sebenarnya
adalah sebuah model/tiruan) tentang dunia sekeliling. Model ini
mengandung struktur pengetahuan atau struktur kognisi.
• Pandangan De Mey dikembangkan lebih lanjut oleh Brookes,
Belkin, dan Wersig. Mereka ingin menyelidiki kaitan antara
proses informasi dengan pembentukan artian (meaning) dan
bukan hanya dengan proses manipulasi simbol. Selain itu,
pandangan ini juga menekankan pada fenomena kondisi
kognitif perorangan (individual cognitive states) sehingga sering
juga dikritik sebagai terlalu individu-sentris. Teori Kognitif tentang Informasi (4)
• Socio Cognitive - muncul ketika pandangan sosiologis dan konstruktivis
tentang kerja akal manusia mulai sering dibicarakan di dalam lingkungan
ilmu kognitif. Mengangkat kenyataan bahwa sejak lama para sosiolog
sudah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kerja akal dan
kesadaran manusia. Pengetahuan tentang cara kerja akal ini kemudian
dipakai untuk memahami hubungan antar manusia di dalam kehidupan
masyarakat.
• Cognitive Style Sebagai bagian dari penelitian tentang pendidikan di
Inggris pada pertengahan 1970-an, G. Pask dan kawan-kawan
menunjukkan bahwa ada dua “gaya” (style) umum di kalangan murid,
yaitu holist dan serialist. Gaya holist cenderung menggunakan
pendekatan global, memeriksa keterkaitan berbagai topik sejak awal
proses belajar. Sebaliknya, gaya serialist (serialis) cenderung
menggunakan pendekatan “lokal” dan berkonsentrasi pada berbagai topik
secara terpisah terlebih dahulu, sebelum membangun keterkaitan antar
topik. Teori Perilaku Informasi (1)
• Perhatian tentang bagaimana tindak-tanduk seseorang ketika
berupaya mencari informasi yang diperlukannya sudah tumbuh
sejak lama, terutama di kalangan orang-orang yang bekerja
sebagai penyedia informasi bagi kegiatan-kegiatan ilmiah.
Tercatat bahwa pada tahun 1948 di Inggris, yakni ketika
diselenggarakan Royal Scientific Information Conference, sudah
ada dua studi tentang pencarian informasi; satu tentang
perilaku para ilmuwan Inggris, dan yang lain tentang perilaku
para pengunjung London Science Museum Library. Sejak tahun
itulah banyak sekali dilakukan penelitian tentang perilaku
pencarian informasi. Badan-badan pemerintah yang
bertanggungjawab pada penyediaan informasi untuk keperluan
pengembangan ilmu dan teknologi, merupakan badan yang
mendukung dana serta fasilitas bagi penelitian-penelitian
tersebut.Teori Perilaku Informasi (2)
• Choo (2006) menggambarkan peta tentang penelitian perilaku pencarian informasi
LINGKUP
PENELITIAN
Tugas/aktivitas
Integratif
ORIENTASI PENELITIAN Sistem Manusia/pengguna
Information Seeking and Retrieving
(Saracevic et.al. 1988)
STI Information Seeking Model
(Mick, Lindsey, Calahan, 1980)
Social Service
(Wilson, Streatfield, 1982)
Physicians and Health Care Practitioners
(NLM, 1987)
Sense Making Model
(Dervin, 1983, 1992)
Information Search Process
(Khulthau, 1988)
Information Use Environment
(Taylor, 1986, 1991)
Models of the Information User
(Wilson. 1981)
Anomalous State of Knowledge
(Belkin. 1980)
Information Retrieval-Behavioral Model
(Ellis et.al. 1989)
Government Officials
(Caplan, Morrison, Stambaugh, 1975)
R&D Engineers
(Allen, 1977)
Scientific Communication
(Paisley, 1968, Pelz dan Andrews 1966, Garvey 1979))
Citizens’ Information Needs
(Chen dan Hernon, 1980)
Social Scientists
(Line, Britain, Crammer 1971)
Scientist and Technologists
(berbagai peneliti, mulai dari Herner 1954 sampai
Pinneli 1991)Teori Perilaku Informasi (3)
• Model Umum Wilson
Konteks kebutuhan informasi Mekanisme
pengaktifan
Variabel perantara Mekanisme
pengaktifan
Perilaku pencarian
informasi
Seseorang dalam
konteksnya
Teori tentang stress
dan cara mengatasi
persoalan
psikologis
demografis
interpersonal /
berkaitan dengan
peran
karakteristik
sumber informasi
lingkungan
Teori tentang risiko
dan imbalan perhatian pasif
Pencarian pasif
pencarian aktif
Pencarian berlanjut
Pengolahan dan pemanfaatan
informasi• Dervin (1992) merumuskan model “Sense Making” sebagai
terdiri dari empat elemen dasar, yaitu: sebuah situasi dalam
rentang ruang dan waktu yang menjadi konteks bagi
kemunculan masalah-masalah informasi, sebuah kesenjangan
kognitif (cognitive gap) yang merupakan indikasi adanya
perbedaan antara situasi kontekstual dengan situasi yang
diinginkan oleh seseorang, suatu hasil (outcome), dan sebuah
jembatan kognisi yang menguragi kesenjangan antara situasi
dan hasil. Dalam modelnya, Dervin menggambarkan seorang
pencari informasi sebagai orang yang bergerak melalui sebuah
situasi yang telah membuatnya merasakan ada kekurangan
atau kesenjangan dalam struktur kognisinya.
Teori Perilaku Informasi (4)Sense Making Theory
PENGKATAAN (verbings)
•Sense-making
•Sense-unmaking
KONTEKS (context)
•Struktur dan dinamika kekuasaan
•Sistem pengetahuan
•Kultur dan komunitas
HASIL (outcomes)
•Bantuan, halangan
•Fungsi, disfungsi
•Konsekuensi, dampak, efek
•Horison masa depan
JEMBATAN (bridge)
•Ide, kognisi, pikiran
•Sikap, kepercayaan, nilai
•Perasaan, emosi, intuisi
•Kenangan, cerita, narasi
KESENJANGAN (gaps)
•Pertanyaan, kebingungan
•Keraguan, teka-teki
•Kecemasan
SITUASI (situation)
•Sejarah
•Pengalaman
•Identitas
•Horison masalampau
•Horison masakini
•Hambatan dan halangan
RUANG - WAKTU
Sumber: Dervin (2005, h. 28)Teori Perilaku Informasi (5)
• Ellis (1987) mengembangkan teori perilaku pencarian informasi
yang dikaitkannya secara langsung dengan IR, terdiri dari: (1)
Starting, (2) Chaining, (3) Browsing, (4) Differentiating,
(5) Monitoring, (6) Extracting
• Kuhlthau (1991) menyoroti aspek afektif dalam proses
pencarian informasi. Dalam modelnya, Kuhlthau
menggambarkan kegiatan pencarian informasi sebagai sebuah
proses konstruksi (pengembangan, pembangunan) yang dilalui
seseorang dari tahap ketidak-pastian (uncertainty) menuju
pemahaman (understanding). Ada 6 tingkatan atau langkah
yang terkandung dalam proses konstruksi ini, yaitu: awalan
(initiation), pemilihan (selection), penjelajahan (exploration),
penyusunan (formulation), pengumpulan (collection), dan
penyajian (presentation). Teori Masyarakat Informasi (1)
• asal muasal istilah “masyarakat informasi” dapat dikaitkan
dengan dua negara, yaitu Amerika Serikat dan Jepang, yang
sama-sama menaruh perhatian terhadap industri informasi.
– Teori dari Amerika Serikat diawali oleh Fritz Machlup dengan
bukunya The Production and Distribution of Knowledge in the
United States (1962) yang sebenarnya menulis tentang ‘knowledge
industry’ dari sisi pandang ekonomi.
– Teori dari Jepang dibentuk oleh berbagai tulisan para pemikir.
Pertama yang harus disebut adalah Yujiro Hayashi, penulis buku
Johoka Shakai : Hado no Shakai Kara Sofuto no Shakai e
(diterjemahkan ke bahasa Inggris:  The Information Society : from
Hard to Soft Society, 1969). Kemudian juga ada Youichi Ito, yang
menulis berbagai artikel tentang masyarakat informasi dengan
mengembangkan pemikiran Tadao Umesao. Lalu ada Yoneji
Masuda yang menulis Joho Shakai Nyumon (Introduction to
Information Society, 1969).  Teori Masyarakat Informasi (2)
• Menurut Webster (2002) ada 5 macam definisi tentang masyarakat
informasi yang memiliki perhatian khusus tentang 5 hal berbeda:
– Teknologis – menggunakan kelahiran teknologi baru sebagai sinyal
kebangkitan masyarakat baru, terutama di bidang komputasi dan
telekomunikasi, sering ditolak karena kurang jelas dalam mengukur
kemajuan. 
– Ekonomi – terfokus pada “ informational activities”, proporsi bisnis
informasi dalam GNP, kesulitan dalam definisi data dan cara
menghitungnya.
– Pekerjaan – konon paling disukai sosiologis, mempelajari struktur tenaga
kerja dan kebangkitan service sectors.
– Spatial – menekankan perkemangan networks  network societies
mengubah dunia, tapi bukankah information networks sudah ada sejak
lama?
– Kultural – melihat peningkatan jumlah informasi yang beredar, paling
mudah dirasakan tapi paling jarang diukurTeori Masyarakat Informasi (3)
• Teori Machlup berdasarkan pada prinsip interdisipliner tetapi
kelemahannya adalah pada intelectual statelessness.
• Punya beberapa kelemahan:
– (1) menganggap semua kegiatan sehari-hari seperti berbicara,
mendengarkan, dan membaca melibatkan ‘state of knowing’ 
terlalu luas sehingga membingungkan.
– (3) mengklaim bahwa pengukuran dilakukan terhadap produksi dan
distribusi pengetahuan, menggunakan teori-teori ekonomi yang tidak
pernah dirancang untuk mengukur pengetahuan.
– (4) menghitung biaya pendidikan dan memasukkan opportunity cost
yang meragukan.  Dia memasukkan ‘home education’ dalam
hitungan (tetapi juga tidak punya metode menghitung yang jelas)
– (5) Dia juga kesulitan mendapatkan justifikasi tentang apa yang
dimaksud dengan ‘new knowledge’. Apalagi kemudian dia terjebak
oleh keinginannya untuk memperhatikan ‘produksi’ dan ‘distribusi’
pengetahuan, padahal datanya kebanyakan hanya tentang produksi. Teori Masyarakat Informasi (4)
• Network Society Network Society Network Society Network Society - dikaitkan dengan kehadiran teknologi jaringan
komunikasi dan informasi yang hampir sepenuhnya digital, serta
keberadaan dan institusionalisasi kelompok-kelompok sosial dalam
bentuk jaringan sebagai konfigurasi utama. Menurut Castells (1996)
sebuah “masyarakat berjaringan” memiliki 5 atribut penting:
– Berbasis ekonomi kapitalis ‘informasional’  rejuvenated form of capitalism.
– Ekonomi dikelola secara global, tidak terkukung oleh batas-batas negara-
bangsa.
– Pengalaman manusia tentang waktu dan ruang dipindahkan ke “timeless time”
dan “space of flows”.
– Kekuasaan merupakan fungsi dari akses ke jaringan dan kendali atas aliran.
Inklusi dan eksklusi jadi penentu dari berkuasa-tidaknya seseorang.
– Sumber utama terjadinya konflik dan penentangan (resistensi) dalam
masyarakat jaringan adalah kontrakdisi antara sifat tak-bertempat (placeless)
jaringan dan keberakaran (rootedness) manusia.  Teori Masyarakat Informasi (5)
• Network Culture Network Culture Network Culture Network Culture - Terranova (2004) menyatakan bahwa informasi
bukanlah semata-mata domain fisk dan juga bukan semata-mata
konstruksi sosial. Informasi bukan hanya isi dari sebuah tindak
komunikasi, bukan sebuah entitas tak-berbentuk (immaterial) yang akan
mengambil alih dunia nyata, melainkan sebuah reorientasi bentuk-bentuk
kekuasaan dan mode-mode resistensi yang spesifik/unik. Di satu sisi ia
merupakan sebuah resistensi terhadap bentuk-bentuk kekuasaan
infromasional, karena bentuk-betuk kekuasaan itu mengandung teknik
manipulasi dan pengekangan (containment) terhadap virtualitas sosial. Di
sisi lain ia mensyaratkan keterlibatan kolektif dengan potensi dari arus
informasi ketika arus ini menggantikan kultur dan membantu manusia
melihatnya sebagai tempat bagi sebuah reinvention kehidupan. Teori Kebijakan Informasi (1)
• Rowland (1997) menyatakan bahwa setidaknya ada tiga motivasi
untuk mempelajari berbagai masalah yang berkaitan dengan kebijakan
informasi, yaitu untuk kepentingan (a) ilmiah dan akademik, (b) pekerja
profesional di bidang informasi, dan (c) politik. Setidaknya ada tiga
tingkatan hirarki kebijakan informasi:
– Kebijakan infrastruktural, seperti misalnya kebijakan tentang pajak atau
undang-undang pekerja, kebebasan berserikat, dan kebijakan pendidikan
yang berlaku secara meluas di sebuah masyarakat, dan berpengaruh
langsung atau tidak langsung terhadap kebijakan informasi.
– Kebijakan informasi horisontal, yang mengandung aplikasi khusus dan
langsung berpengaruh pada sektor informasi, seperti kebijakan yang
mengharuskan penyediaan perpustakaan umum, pajak terhadap buku,
atau undang-undang proteksi data.
– Kebijakan informasi vertikal, yang berlaku untuk sektor informasi tertentu
saja, misalnya pengaturan di kalangan komunitas pengelola informasi
geografis.Teori Kebijakan Informasi (2)
• Menurut Valantin (1996) "information policy" mencakup di
dalamnya isu yang berkaitan dengan isi informasi (access,
copyright, privacy, public information, etc.), isu komunikasi
(telecommunications, broadcasting, spectrum management,
national/global infrastructure, etc.), dan keterkaitan antara
informasi, teknologi dan berbagai bidang lain (Sains &Teknologi,
hubungan industrial, sektor ekonomi tertentu, pendidikan,
tenagakerja, kesehatan)
• Lancaster and Burger (1990) meminjam istilah dari ekonomi,
mengusulkan macroinformatics untuk persoalan transfer informasi
secara umum, dan microinformatics untuk persoalan informasi
dalam sektor tertentu.  Teori Kebijakan Informasi (3)
• Andersen (1991) mengaitkan TI dengan struktur dan  fungsi
pemerintahan dalam empat model:
– TI mengubah proses pemerintahan,
– TI mengubah hubungan antara pemimpin dan birokrasi di dalam
pemerintahan,
– Karekter pemerintahan sebagai sumber informasi berubah oleh
pemanfaatan TI,
– Kemajuan TI menciptakan tuntutan baru dari publik  terhadap
pemerintah.
• Kitahara (1995) berteori tentang penggunaan TI sebagai
“hidden desire” untuk mengontrol birokrasi dalam rangka
demokrasi. Hague dan Loader (1999) mengaitkan dua hal
dengan kemunculan digital democracy: persepsi tentang proses
politik yang dianggap sudah harus berubah, dan harapan
penggunaan TI dalam meningkatkan partisipasi politik rakyat. Taksonomi Kebijakan Informasi
• Maxwell (2003) membuat taksonomi tentang nilai yang ingin ditegakkan melalui
kebijakan informasi sebagai berikut:
Setiap kelompok boleh
menggunakan TI untuk
mengembangkan hegemoni
kultural.
Mendukung penciptaan
komunikasi yang terbuka dan
lancar tanpa melihat batas-
batas sosial-politik.
Global
Menekankan pentingnya
proteksi kepemilikan informasi
pribadi.
Menjamin ketersebaran
produksi informasi secara
merata di masyarakat
Produksi
Menjamin kebebasan pribadi
untuk berkembang sesuai
kebutuhannya.
Mendukung pengembangan
pengetahuan bersama di dalam
masyarakat.
Transformasi
Menjamin kebebasan akses
individual agar dapat mengambil
keputusan politik.
Menjamin kesatuan sosial
dengan menjamin konsensus
dan standar dalam komunikasi
Kedaulatan
Penekanan pada individu Penekanan pada
masyarakatTeori Kebijakan Informasi (4)
• Menurut Everard (2000) negara dapat dianggap “hyperreal”, seperti
sebuah perangkat lunak, tampak stabil selama ada listrik mengalir dan
tidak ada virus yang mengganggu kerjanya. Begitu ada interupsi dalam
aliran listrik, atau jika ada “corrupt” karena virus, maka berantakanlah
negara itu. Ciri-ciri negara saat ini:
– Persatuan ide (unifying ideas) tentang negara merupakan hal penting dalam
pembentukan identitas. Negara bukanlah sebuah identitas tunggal,
melainkan multifaceted . Ini dapat dibentuk secara “virtual” di ruang cyber.
– Internet dapat dilihat baik sebagai pergeseran filosofis yang lebih besar
dalam masyarakat barat, dan juga sebagi katalis bagi pengembangan
ekonomi informasi ‘global’ yang semakin cepat
– Negara tetap merupakan struktur identitas yang penting, walau diartikulasi
ulang, di jaman ekonomi global ini.
– Ada tiga proses yang perlu diperhatikan: disaggregasi negara sebagai aktor;
pertentangan “kita/mereka” dalam konstruksi identitas; dan pengaruh
proses-proses tersebut di dalam ketimpangan sosial-ekonomi.TerimakasihDaftar Rujukan
• Baeza-Yates, R. dan B. Riberto-Neto (1999), Modern Information Retrieval, New York : Addison-Wesley.
• Barry N. dan B D. Loader (1999). “Digital democracy: an introduction” dalam Digital Democracy : Discourse and
Decision Making in the Information Age. Ed.  BN. Hague dan BD. Loader, London : Routledge, h. 3 - 22.
• Boland, R (1978) “The process and product of system design” dalam Management Science 24(9), 887–898.
• Castells, M. (1996), The Rise of Network Society, Oxford : Blackwell
• Carroll, J.M. dan M.B. Rosson (1987). “Paradox of the active users” dalam Interfacting Thought. Ed. J.M. Carroll, h.
81-111.
• Ellis, D. (1987),  The Derivation of a Behavioral Model for Information System Design, disertasi doktoral, tidak
diterbitkan, University of Sheffield, Inggris.
• Everard, J. (2000), Virtual States : The Internet and the Boundaries of the Nation-State, London : Routledge.
• Gregor, S. (2005), “The Struggle towards an understanding of theory in information systems” dalam  Information
Systems Foundations – Constructing and Criticising, ed. Dennis N. Hart dan Shirley D. Gregor, Canberra  : ANU E
Press.
• Kitahara, M (1995). The Entangled Civilization : Democracy, Equality, and Freedom at a Loss. London : Open Gate
Press. Hague,
• Lancaster, F.W. dan R.H. Burger (1990). "Macroinformatics, microinformatics and information policy" dalam The
information environment: a world view, ed.: D.J. Foskett, Amsterdam : Elsevier.
• Markus, M.L. (2002), “Power, politics, and MIS implementation” dalam Qualitative Research in Information Systems,
M.D. Myers dan D. Avison (ed.), London : Sage Publication.
• Orlikowski W dan D.C. Gash (1991) “Changing frames: understanding technological changes in organisations”.
Working Paper 236, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, MA.
• Palvia, P., V. Midha, P. Pinjani (2006), “Research model in information systems” dalam Communication of the
Associations of Information Sytems, v. 17, h. 1042 – 1063
• Robertson, S. (2000), “On theoritical argument in information retrieval” dalam SIGIR Forum, v. 34 no. 1, hal. 1-10.
• Rowlands, I (1997), “Understanding information policy : concepts, frameworks and research tools” dalam
Understanding Information Policy, ed. I. Rowlands, London : Bowker-Saur, hal. 27 – 45.
• Terranova, T. (2004), Network Culture : Politics of the Information Age, London : Pluto Press.
• Valantin, R (1996). “Global Program Initiative:  Information policy research” dalam  Information Technology for
Development. V 7 n 2,  hal. 95-103
• Wilson, C.S (1999), “Informetrics” dalam Annual Review of Information Science and Technology, Cronin, B. (ed.), vol.
34, Medford, NJ : Information Today Inc, hal. 101-247. Vector Model
dj
Q
Ө
Ө = sim(dj
,Q)Probability Model
Q
D
Q
D
Q’
D’
R R RSV – retrieval status value
r(Q’k,D’j)
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) i k i k m k m k d q R P C d q R P d q R P C d q R P C , 1 , , 1 , − • + ≤ − • + •
Probability ranking principle

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Blogroll

time

indonesia united

lumba-lumba darat

Pengunjung

    319.977